KONSEP DIRI REMAJA
a. Pengertian dan Komponen Konsep Diri
Para
ahli psikologi dan komunikasi memberikan rumusan tentang konsep diri sebagai
berikut :
· Konsep diri adalah gambaran,
pandangan, keyakinan, dan penghargaan, atau perasaan seseorang tentang dirinya
sendiri (R.H. Dj. Sinurat).
· Konsep diri adalah
penghargaan diri, nilai diri, atau penerimaan diri. Konsep diri meliputi semua
keyakinan dan penilaian tentang diri sendiri. Hal ini akan menentukan siapa
kita dalam kenyataan, tetapi juga menentukan siapa kita menurut pikiran sendiri,
apa yang dapat kita lakukan menurut pikiran sendiri, dan menjadi apa menurut
pikiran sendiri (Burns).
·
Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri
individu, dan itu bisa
diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang
lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7)
Komponen Konsep DIiri
Komponen
konsep diri antara lain adalah :
1.
Gambaran diri, adalah
sikap individu terhadap tubuhnya, baik sadar maupun tidak sadar. Meliputi :
performance, potensi tubuh, persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk
tubuh.
2.
Ideal diri, adalah persepsi individu
tentang perilakunya yang disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan
cita-cita.
3.
Harga diri, adalah penilaian individu
terhadap hasil yang dicapai dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku
individu tersebut.
4.
Peran diri, adalah
pola perilaku sikap nilai dan aspirasi yang diharapkan individu berdasarkan
posisinya dimasyarakat.
5.
Identitas diri, adalah
kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian
sebagai sintesis semua aspek konsep diri sebagai sesuatu yang utuh.
Sehubungan dengan konsep diri,
beberapa hal mulai berkembang pada masa remaja, antara lain:
·
Pengetahuan tentang diri sendiri
bertambah
·
Harapan-harapan yang ingin dicapai di
masa depan muncul
·
Terjadi penilaian diri atas tingkah
laku dan cara mengisi kehidupan
Ada 3 dimensi konsep diri, yakni :
1. Pengetahuan tentang diri sendiri
Dalam benak pikiran seseorang telah memiliki data tentang siapa
dirinya. Semakin banyak tahu tentang deskripsi diri akan semakin baik konsep dirinya. Contoh : “Saya Hartini
kelas I SMK, pendiam, mudah tersinggung, pintar, jago matematika, hemat, setia,
kurang pede, taat beribadah”. Wawasan tentang diri ini semakin lama semakin
luas sesuai dengan dinamika konsep
dirinya.
2. Pengharapan terhadap diri.
Disebut juga
dengan Diri Ideal, yakni
harapan dan kemungkinan dirinya menjadi apa kelak sesuai dengan idealismenya. “Diri Ideal” setiap orang berbeda-beda,
ada yang mengharap dirinya menjadi pengusaha yang sukses, akuntan yang jujur, psikolog yang
taqwa, sebaliknya ada pula orang yang ingin meraih popularitas dalam
bermasyarakat. Contohnya : Politikus yang adil, pengusaha yang dermawan,
dan lain-lain.
3. Penilaian terhadap diri sendiri.
Disadari atau
tidak setiap saat kita selalu menilai diri sendiri. Khususnya menilai setiap
tingkah laku kita. Contoh : tingkah laku belajar saya menghasilkan nilai rapor
5,5 ini berarti gagal. Mengapa bisa terjadi ? Hasil penilaian, antara harapan
yang dibentangkan dengan fakta yang ada di dalam diri akan menghasilkan “Rasa Harga Diri ”. Semakin lebar
ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan
diri sendiri maka “semakin rendah rasa harga dirinya”. Sebaliknya orang
yang hidupnya mendekati standar harapan hidupnya, menyukai apa yang
dikerjakannya maka akan “semakin tinggi rasa harga dirinya”.
Kita bisa melihat konsep diri dari
empat sudut pandang, yakni:
1. Konsep diri positif (tinggi)
dan konsep diri negatif (rendah). Sudut Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang
memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik
sebagai berikut:
§ Merasa mampu mengatasi
masalah.
§ Merasa setara dengan orang
lain.
§ Menerima pujian tanpa rasa
malu.
§ Merasa mampu memperbaiki diri.
Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang
dianggap kurang.
Sedangkan orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan
karakteristik sebagai berikut :
§ Peka terhadap kritik.
Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang lain sebagai proses
refleksi diri.
§ Bersikap responsif terhadap
pujian. Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan yang telah dilakukan,
sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat penghargaan.
§ Cenderung merasa tidak disukai
orang lain. Perasaan subyektif bahwa setiap orang lain disekitarnya memandang
dirinya dengan negatif.
§ Mempunyai sikap hiperkritik.
Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain.
§ Mengalami hambatan dalam
interaksi dengan lingkungan sosialnya. Merasa kurang mampu dalam berinteraksi
dengan orang-orang lain.
1. Konsep diri fisik dan konsep
diri sosial. Sudut pandang ini membedakan pandangan diri kita sendiri atas
pribadi kita dan pandangan masyarakat atas pribadi kita.
2. Konsep diri emosional dan
konsep diri akademis. Dengan sudut pandang ini kita bisa membedakan pandangan
diri sendiri yang dipengaruhi oleh perasaan/faktor psikologis dan yang
secara ilmiah bisa dibuktikan.
3. Konsep diri riil dan konsep
diri ideal. Sudut pandang ini membedakan diri kita yang nyata/sebenarnya
dan yang kita cita-citakan.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Konsep Diri
Konsep
diri bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil belajar. Semenjak manusia mengenal
lingkungan hidupnya, sejak itu pula ia belajar banyak hal tentang kehidupan.
Berdasarkan pengalaman hidupnya, seseorang akan menetapkan konsep dirinya
berdasarkan berbagai faktor. Menurut E.B. Hurlock, seorang psikolog,
faktor-faktor itu adalah bentuk tubuh, cacat tubuh, pakaian, nama dan julukan,
inteligensi kecerdasan, taraf aspirasi/ cita-cita, emosi, jenis/gengsi sekolah,
status sosial, ekonomi keluarga, teman-teman, dan tokoh/orang yang berpengaruh.
Apabila berbagai faktor itu cenderung menimbulkan perasaan positif (bangga,
senang), maka muncullah konsep diri yang positif. Pada masa kanak-kanak,
seseorang biasanya cenderung menganggap benar apa saja yang dikatakan oleh
orang lain. Jika seorang anak merasa diterima, dihargai, dicintai, maka anak
itu akan menerima, menghargai, dan mencintai dirinya (berkonsep diri positif).
Sebaliknya, jika orang-orang yang berpengaruh di sekelilingnya (orang tua,
guru, orang dewasa lainnya, atau teman-temannya) ternyata meremehkan,
merendahkannya, mempermalukan, dan menolaknya, maka pengalaman itu akan
disikapi dengan negatif (memunculkan konsep diri negatif).
c. Proses Pembentukan Konsep Diri
Konsep
diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia
dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap
atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak
untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh
dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, ataupun lingkungan yang
kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini
disebabkan sikap orang tua yang misalnya: suka memukul, mengabaikan, kurang
memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji,
suka marah-marah, dan sebagainya—dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan,
kesalahan atau pun kebodohan dirinya.
Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari
lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak
akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.
Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari
perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu,
namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat.
Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai
baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi
merasa "bodoh", namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia
berusaha memperbaiki nilai.
Johari Window (
Jendela Johari )
Joseph Luft dan Harrington
Ingham , mengembangkan konsep Johari
Window sebagai perwujudan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain
yang digambarkan sebagai sebuah jendela. ‘Jendela’ tersebut terdiri dari matrik
4 sel, masing-masing sel menunjukkan daerah self (diri) baik yang terbuka
maupun yang disembunyikan. Keempat sel tersebut diantaranya :
1. Daerah
publik,
2. Daerah
buta,
3. Daerah
tersembunyi, dan
4.
Daerah yang tidak disadari.
Disini
ada konsep Johari Window atau jendela Johari yang menggambarkan pengenalan diri
kita, ada empat Jendela Johari
diantaranya :
· Jendela terbuka.
Hal-hal yang
kita tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain pun tahu. Misalnya keadaan
fisik, profesi, asal daerah, dan lain-lain.
· Jendela tertutup.
Hal-hal mengenai
diri kita yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu. Misalnya isi perasaan,
pendapat, kebiasaan tidur, dan sebagainya.
· Jendela buta.
Hal-hal yang
kita tidak tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain tahu. Misalnya hal-hal
yang bernilai positif dan negatif pada kepribadian kita.
· Jendela gelap.
Hal-hal mengenai
diri kita, tapi kita sendiri maupun orang lain tidak tahu. Ini adalah wilayah
misteri dalam kehidupan.
Jika kita ingin
benar-benar mengetahui siapa diri kita, maka kita harus bisa membuka jendela
tersebut selebar mungkin, karena semakin kita memuka lebar jendela itu, maka
kita akan semakin mengerti siapa diri kita. Ada beberapa cara untuk kita agar
bisa membuka jendela itu selebar mungkin :
· Cobalah untuk selalu terbuka
kepada orang lain, jangan menjadi orang yang munafik..dengan berlagak diri kita
itu perfect. Dengan adanya keterbukaan, maka teman-teman kita pun akan bisa
terbuka kepada kita.
· Bersikaplah apa adanya, karena
dengan sikap kita yang natural tanpa dibuat-buat, maka kita akan mulai bisa
menjadi diri kita sendiri.
· Mau menerima saran maupun
kriktik dari orang lain. Kritikan negative akan membuat kita semakin baik.
· Cobalah untuk berteman dengan
siapa saja, jangan hanya pada satu komunitas saja…selama itu membawa dampak
yang positif.
